Berharap Sepakbola Mudik Bersama si Pecundang

Gareth Southgate memikul harapan Inggris untuk kembali jadi juara Piala Dunua (Lee Smith/Reuters)
Gareth Southgate memikul harapan Inggris untuk kembali jadi juara Piala Dunia
GALAXYDOMINO - Barangkali sepakbola Inggris akan selamanya terjebak dalam romantisme Piala Dunia 1966. Ia adalah acuan yang sempurna dan satu-satunya. Karena itu, membawa pulang sepakbola ke tanah kelahiran seperti yang dilakukan Geoff Hurst dkk adalah impian abadi pesepakbola Inggris dari generasi ke generasi.
http://bit.ly/gd789

Permisi,

YUK DAFTAR DI GALAXYDOMINO .COM karena lagi ada PROMO LOH:

DEPO 50.000 BONUS 50.000

WEB : http://bit.ly/gd789
Syarat:
- Untuk New Member
- Withdraw Minimal 50.000
- HARUS ADA TO 50 RIBU BARU BISA MELAKUKAN PROSES WD

MUDAHKAN? TUNGGU APALAGI YUK DAFTAR DI GALAXYDOMINO .COM

Kita tak perlu lagi sangsi soal ini. Tapi, sekali lagi dan sekali lagi sepakbola begitu bengal, selalu saja enggan mudik bersama mereka. Ini juga tak perlu diragukan, bahkan sudah menjadi semacam kepastian.

Dulu mereka punya Gary Winston Lineker. Si raja gol, yang namanya dipelesetkan dengan bahagia dan bangga oleh mereka menjadi Gary Win-eker, juga Gary Goal! Di Meksiko 1986, the killer with the baby face menjadi top scorer dengan 6 buah gol. Tapi si boncel El Diego mempecundangi mereka dalam laga sensasional di partai perempatfinal dengan Gol Tangan Tuhan dan The Goal of the Century.

Empat tahun kemudian di Italia, Three Lions melaju ke babak semifinal dengan gemilang. "La la la. Football's coming home, dee, dee, dee. Come on, come on England. For God's sake England, come on!" begitulah nyanyian itu bergemuruh di Stadion Delle Alpi, Turin.

 Maklum, selain Lineker, ketika itu mereka punya sederet bintang lain. Gambar Paul "Gazza" Gascoigne, Alan Shearer, Teddy Sheringham, dan Bryan Robson muncul di mana-mana. Namun lagi-lagi mereka harus mewek tak kalah pilunya. Kali ini kalah adu penalti 3-4, dan tak tanggung-tanggung dari musuh abadi mereka dalam sepakbola: Jerman Barat!

Itu juga sebuah pertandingan yang cukup meradang. Hari itu 4 Juli 1990, di hadapan 62.628 penonton yang padati Delle Alpi, Jerman Barat unggul lebih dulu pada menit ke-60 lewat Andreas Brehme dan si Gary Goal berhasil samakan kedudukan pada menit ke-80. Tapi sepanjang extra time, ternyata mereka tak mampu manfaatkan peluang yang datang bertubi-tubi. Alhasil, Stuart Pearce dan Chris Waddle yang gagal mengeksekusi penalti pun hanya bisa menangis sambil menutupi wajah.

"Saya tak bisa bicara dengan mereka. Sangat berat mengatakan sesuatu kepada mereka. Akhirnya, karena saya tak dapat melihat wajah mereka, saya hanya bisa menepuk bahu mereka, dan saya bilang, sudahlah, kesedihan ini adalah bagian dari sepakbola," demikian kenang Bobby Robson sang pelatih. Konon Pearce butuh waktu enam tahun untuk melupakan kesialannya.

Toh, orang-orang kemudian tak hanya mengingat laga di Turin bersama mewek-nya Pearce dan Waddle. Tapi juga mewek-nya Gazza, si badut tukang minum yang bertobat jadi pemakan coklat itu, yang tertangkap kamera selepas ia menerima kartu kuning pada menit ke-99. Kekalahan ini pulalah yang melahirkan ucapan terkenal Gary Lineker yang kerap dijadikan quote itu: "Football is a simple game. Twenty-two men chase a ball for 90 minutes and at the end, the Germans always win."

No comments

Powered by Blogger.